Minggu, 04 Juli 2010

Tahapan Perkembangan Anak Balita (0-59 bulan) dan Anak Pra-Sekolah (60-72 bulan) PDF Print E-mail
Written by dr. Awi Muliadi Wijaya, MKM   
Saturday, 06 February 2010 10:17
Orang tua, pengasuh dan pendidik perlu mengetahui tahapan perkembangan anak (anak didik), apakah perkembangannya berlangsung normal atau ada penyimpangan. Bilamana pendidik mencurigai anak didiknya mengalami penyimpangan perkembangan atau terlambat berkembang dibandingkan dengan usianya maka dapat memberitahu orang tua agar segera memeriksakan anaknya ke fasilitas kesehatan sehingga dapat ditanggulangi secara dini.


Beberapa hal yang perlu diketahui tentang proses tumbuh kembang anak yaitu proses pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan. Secara umum ciri-ciri tumbuh kembang anak adalah:
  • Pertumbuhan dan perkembangan terjadi bersamaan dan berkorelasi. Misalnya: pertumbuhan otak dan serabut syaraf anak akan disertai perubahan fungsi yaitu perkembangan intelegensianya.
  • Perkembangan mempunyai pola yang teratur dan berurutan. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan tahap selanjutnya. Misalnya: sebelum anak bisa berjalan, ia harus bisa berdiri dahulu.
  • Perkembangan fungsi organ tubuh mempunyai pola yang tetap yaitu: perkembangan lebih dahulu terjadi pada daerah kepala kemudian menuju kearah bawah (kaudal), perkembangan terjadi pada kemampuan gerak kasar terlebih dahulu, kemudian diikuti kemampuan gerak halus.
  • Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar. Kematangan merupakan proses dari dalam (intrinsik) yang terjadi dengan sendirinya sesuai bakat dan potensi anak. Sedangkan proses belajar akan mengasah kemampuan anak sehingga anak memiliki kemampuan menggunakan sumber dan potensi yang diwariskan pada anak.
  • Perkembangan dapat diramalkan. Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak dari tahapan umum ketahapan spesifik yang terjadi secara teratur dan berkesinambungan. Dengan demikian tahapan perkembangan seorang anak dapat diramalkan.

Tahapan perkembangan anak yang berusia 0-72 bulan sebagai berikut:

Usia 0-3 bulan:
  • Mengangkat kepala setinggi 45°
  • Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah
  • Melihat dan menatap wajah anda
  • Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh 
  • Suka tertawa keras 
  • Bereaksi terkejut terhadap suara keras
  • Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum.
  • Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, dan kontak

Usia 3-6 bulan:
  • Berbalik dari telungkup ke telentang
  • Mengangkat kepala setinggi 90°
  • Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil
  • Menggenggam pensil
  • Meraih benda yang ada dalam jangkauannya
  • Memegang tangannya sendiri
  • Berusaha memperluas pandangan
  • Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
  • Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik
  • Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik saat bermain sendiri

Usia 6-9 bulan:
  • Duduk sendiri (dalam sikap bersila)
  • Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan
  • Merangkak dan meraih mainan atau mendekati seseorang
  • Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya
  • Memungut dua benda, masing-masing tangan memegang satu benda pada saat yang bersamaan
  • Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup
  • Bersuara tanpa arti seperti: mamama, bababa, dadada, tatata
  • Mencari mainan/benda yang dijatuhkan
  • Bermain tepuk tangan/cilukba
  • Bergembira dengan melempar benda
  • Makan kue sendiri

Usia 9-12 bulan:
  • Mengangkat badannya ke posisi berdiri
  • Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi
  • Dapat berjalan dengan dituntun
  • Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan
  • Mengenggam erat pensil
  • Memasukkan benda ke mulut
  • Mengulang menirukan bunyi yang didengar
  • Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti
  • Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja
  • Bereaksi terhadap suara bisikan (perlahan)
  • Senang diajak bermain "CILUK BA"
  • Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal

Usia 12-18 bulan:
  • Berdiri sendiri tanpa berpegangan
  • Membungkuk untuk memungut mainan kemudian berdiri kembali
  • Berjalan mundur 5 langkah
  • Memanggil ayah dengan kata "papa", memanggil ibu dengan kata "mama".
  • Menumpuk dua buah kubus
  • Memasukkan kubus di kotak
  • Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek, anak bisa mengeluarkan suara yang menyenangkan atau menarik tangan ibu
  • Memperlihatkan rasa cemburu/bersaing

Usia 18-24 bulan:
  • Berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik
  • Berjalan tanpa terhuyung-huyung
  • Bertepuk tangan, melambai-lambai
  • Menumpuk empat buah kubus
  • Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk
  • Menggelindingkan bola kearah sasaran
  • Menyebut 3-6 kata yang mempunyai arti
  • Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga
  • Memegang cangkir sendiri, belajar makan-minum sendiri

Usia 24-36 bulan:
  • Jalan menaiki tangga sendiri
  • Dapat bermain dan menendang bola kecil
  • Mencoret-coret pensil pada kertas
  • Bicara dengan baik, menggunakan dua kata
  • Dapat menunjuk satu atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta
  • Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama dua benda atau lebih
  • Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu membawa suatu benda jika diminta
  • Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah
  • Melepas pakaiannya sendiri

Usia 36-48 bulan:
  • Berdiri pada satu kaki selama 2 detik
  • Melompat dengan kedua kaki diangkat
  • Mengayuh sepeda roda tiga
  • Menggambar garis lurus
  • Menumpuk 8 buah kubus
  • Mengenal 2-4 warna
  • Menyebut nama, umur, tempat.
  • Mengerti arti kata di atas, di bawah, di depan
  • Mendengarkan cerita
  • Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri
  • Bermain bersama ternan, mengikuti aturan permainan
  • Mengenakan sepatu sendiri
  • Mengenakan celana panjang, kemeja, baju

Usia 48-60 bulan:
  • Berdiri pada satu kaki selama 6 detik
  • Melompat dengan kedua kaki diangkat
  • Mengayuh sepeda roda tiga
  • Menggambar garis lurus
  • Menumpuk 8 buah kubus
  • Mengenal 2-4 warna
  • Menyebut nama, Usia, tempat
  • Mengerti arti kata di atas, di bawah, di depan
  • Mendengarkan cerita
  • Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri
  • Bermain bersama teman, mengikuti aturan permainan
  • Mengenakan sepatu sendiri
  • Mengenakan celana panjang, kemeja, baju

Usia 60-72 bulan:
  • Berjalan lurus
  • Berdiri dengan satu kaki selama 11 detik
  • Menggambar 6 bagian tubuh, menggambar orang lengkap
  • Menangkap bola kecil dengan kedua tangan
  • Menggambar segi empat
  • Mengerti arti lawan kata
  • Mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih
  • Menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan kegunaannya
  • Mengenal angka, bisa menghitung angka 5 -10
  • Mengenal warna-warni
  • Mengungkapkan simpati
  • Mengikuti aturan permainan
  • Berpakaian sendiri tanpa dibantu

Sumber
Departemen Kesehatan RI, 2006, Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.

Jumat, 02 Juli 2010

Stimulasi Dini pada Bayi dan Balita untuk Mengembangkan Kecerdasan Multiple dan Kreativitas Anak



Apa yang dimaksud dengan kecerdasan multipel ?
Kecerdasan multipel (multiple inteligensia) adalah berbagai jenis kecerdasan yang dapat dikembangkan pada anak, antara lain verbal-linguistic (kemampuan menguraikan pikiran dalam kalimat-kalimat, presentasi, pidato, diskusi, tulisan), logical–mathematical (kemampuan menggunakan logika-matematik dalam memecahkan berbagai masalah), visual spatial (kemampuan berpikir tiga dimensi), bodily-kinesthetic (ketrampilan gerak, menari, olahraga), musical (kepekaan dan kemampuan berekspresi dengan bunyi, nada, melodi, irama), intrapersonal (kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri), interpersonal (kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan orang lain), naturalist (kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan).

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kualitas kecerdasan ?
Kecerdasan multipel dipengaruhi 2 faktor utama yang saling terkait yaitu faktor keturunan (bawaan, genetik) dan faktor lingkungan. Seorang anak dapat mengembangkan berbagai kecerdasan jika mempunyai faktor keturunan dan dirangsang oleh lingkungan terus menerus.

Orangtua yang cerdas anaknya cenderung akan cerdas pula jika faktor lingkungan mendukung pengembangan kecerdasaannnya sejak didalam kandungan, masa bayi dan balita. Walaupun kedua orangtuanya cerdas tetapi jika lingkungannya tidak menyediakan kebutuhan pokok untuk pengembangan kecerdasannya, maka potensi kecerdasan anak tidak akan berkembang optimal. Sedangkan orangtua yang kebetulan tidak berkesempatan mengikuti pendidikan tinggi (belum tentu mereka tidak cerdas, mungkin karena tidak ada kesempatan atau hambatan ekonomi) anaknya bisa cerdas jika dicukupi kebutuhan untuk pengembangan kecerdasan sejak di dalam kandungan sampai usia sekolah dan remaja.

Apa kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan ?
Tiga kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan antara lain adalah kebutuhan FISIK-BIOLOGIS (terutama untuk pertumbuhan otak, sistem sensorik dan motorik), EMOSI-KASIH SAYANG (mempengaruhi kecerdasan emosi, inter dan intrapersonal) dan STIMULASI DINI (merangsang kecerdasan-kecerdasan lain).

Kebutuhan FISIK-BIOLOGIS terutama gizi yang baik sejak di dalam kandungan sampai remaja terutama untuk perkembangan otak, pencegahan dan pengobatan penyakit-penyakit yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan, dan ketrampilan fisik untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Kebutuhan EMOSI-KASIH SAYANG : terutama dengan melindungi, menimbulkan rasa aman dan nyaman, memperhatikan dan menghargai anak, tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan tetapi lebih banyak memberikan contoh-contoh dengan penuh kasih sayang. Kebutuhan STIMULASI meliputi rangsangan yang terus menerus dengan berbagai cara untuk merangsang semua system sensorik dan motorik.

Ketiga kebutuhan pokok tersebut harus diberikan secara bersamaan sejak janin didalam kandungan karena akan saling berpengaruh. Bila kebutuhan biofisik tidak tercukupi, gizinya kurang, sering sakit, maka perkembangan otaknya tidak optimal. Bila kebutuhan emosi dan kasih sayang tidak tercukupi maka kecerdasan inter dan antar personal juga rendah. Bila stimulasi dalam interaksi sehari-hari kurang bervariasi maka perkembangan kecerdasan juga kurang bervariasi.

Apa itu STIMULASI DINI ? Apa manfaatnya ?
Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak janin 6 bulan di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran bayi dan balita. Rangsangan yang dilakukan sejak lahir, terus menerus, bervariasi, dengan suasana bermain dan kasih sayang, akan memacu berbagai aspek kecerdasan anak (kecerdasan multipel) yaitu kecerdasan : logiko-matematik, emosi, komunikasi bahasa (lingusitik), kecerdasan musikal, gerak (kinestetik), visuo-spasial, senirupa dll.

Cara melakukan stimulasi dini
Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita. misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan, menjelang tidur.

Stimulasi untuk bayi 0 – 3 bulan dengan cara : mengusahakan rasa nyaman, aman dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok (lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih), benda-benda berbunyi, mengulingkan bayi kekanan-kekiri, tengkurap-telentang, dirangsang untuk meraih dan memegang mainan

Umur 3 – 6 bulan ditambah dengan bermain ‘cilukba’, melihat wajah bayi dan pengasuh di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

Umur 6 – 9 bulan ditambah dengan memanggil namanya, mengajak bersalaman, tepuk tangan, membacakan dongeng, merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan.

Umur 9 – 12 bulan ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan mama-papa, kakak, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, dilatih berdiri, berjalan dengan berpegangan.

Umur 12 – 18 bulan ditambah dengan latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna, menyusun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle) memasukkan dan mengeluarkan benda-benda kecil dari wadahnya, bermain dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap. Latihlah berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, memanjat tangga, menendang bola, melepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukan itu, ambil itu), menyebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.

Umur 18 – 24 bulan ditambah dengan menanyakan, menyebutkan dan menunjukkan bagian-bagian tubuh (mana mata ? hidung?, telinga?, mulut ? dll), menanyakan gambar atau menyebutkan nama binatang & benda-benda di sekitar rumah, mengajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum mandi, main, minta dll), latihan menggambar garis-garis, mencuci tangan, memakai celana - baju, bermain melempar bola, melompat.

Umur 2 – 3 tahun ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit dll), menyebutkan nama-nama teman, menghitung benda-benda, memakai baju, menyikat gigi, bermain kartu, boneka, masak-masakan, menggambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil / besar di toilet.

Setelah umur 3 tahun selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi juga di arahkan untuk kesiapan bersekolah antara lain : memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air kecil / besar di toilet), dan kemandirian (ditinggalkan di sekolah), berbagi dengan teman dll. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga) namun dapat pula di Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak atau sejenisnya.

Pentingnya suasana ketika stimulasi
 

Stimulasi dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan bayi-balita, setiap hari, terus menerus, bervariasi, disesuaikan dengan umur perkembangan kemampuannya, dilakukan oleh keluarga (terutama ibu atau pengganti ibu).

Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan kegembiraan antara pengasuh dan bayi/balitanya. Jangan memberikan stimulasi dengan terburu-terburu, memaksakan kehendak pengasuh, tidak memperhatikan minat atau keinginan bayi/balita, atau bayi-balita sedang mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain. Pengasuh yang sering marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari pengasuh justru memberikan rangsang emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua ucapan, sikap dan perbuatan pengasuh adalah merupakan stimulasi yang direkam, diingat dan akan ditiru atau justru menimbulkan ketakutan bayi-balita.

Pentingnya pola pengasuhan yang demokratik (otoritatif)
Oleh karena itu interaksi antara pengasuh dan bayi atau balita harus dilakukan dalam suasana pola asuh yang demokratik (otoritatif). Yaitu pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat bayi, artinya memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku yang baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.

Mengapa stimulasi dini bisa merangsang kecerdasan multipel ?
Sel-sel otak janin dibentuk sejak 3 – 4 bulan di dalam kandungan ibu, kemudian setelah lahir sampai umur 3 – 4 tahun jumlahnya bertambah dengan cepat mencapai milyaran sel, tetapi belum ada hubungan antar sel-sel tersebut. Mulai kehamilan 6 bulan, dibentuklah hubungan antar sel, sehingga membentuk rangkaian fungsi-fungsi. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antar sel-sel otak ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) yang dilakukan oleh lingkungan kepada bayi-balita tersebut.

Semakin bervariasi rangsangan yang diterima bayi-balita maka semakin kompleks hubungan antar sel-sel otak. Semakin sering dan teratur rangsangan yang diterima, maka semakin kuat maka hubungan antar sel-sel otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat hubungan antar sel-sel otak, maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di kemudian hari, bila dikembangkan terus menerus, sehingga anak akan mempunyai banyak variasi kecerdasan (multiple inteligensia).

Bagaimana cara merangsang kecerdasan multipel ?

Untuk merangsang kecerdasan berbahasa verbal ajaklah bercakap-cakap, bacakan cerita berulang-ulang, rangsang untuk berbicara dan bercerita, menyanyikan lagu anak-anak dll.

Latih kecerdasan logika-matematik dengan mengelompokkan, menyusun, merangkai, menghitung mainan, bermain angka, halma, congklak, sempoa, catur, kartu, teka-teki, puzzle, monopoli, permainan komputer dll.

Kembangkan kecerdasan visual-spatial dengan mengamati gambar, foto, merangkai dan membongkar lego, menggunting, melipat, menggambar, halma, puzzle, rumah-rumahan, permainan komputer dll.

Melatih kecerdasan gerak tubuh dengan berdiri satu kaki, jongkok, membungkuk, berjalan di atas satu garis, berlari, melompat, melempar, menangkap, latihan senam, menari, olahraga permainan dll.

Merangsang kecerdasan musikal dengan mendengarkan musik, bernyanyi, memainkan alat musik, mengikuti irama dan nada.

Melatih kecerdasan emosi inter-personal dengan bermain bersama dengan anak yang lebih tua dan lebih muda, saling berbagi kue, mengalah, meminjamkan mainan, bekerjasama membuat sesuatu, permainan mengendalikan diri, mengenal berbagai suku, bangsa, budaya, agama melalui buku, TV dll.

Melatih kecerdasan emosi intra-personal dengan menceritakan perasaan, keinginan, cita-cita, pengalaman, berkhayal, mengarang ceritera dll.

Merangsang kecerdasan naturalis dengan menanam biji hingga tumbuh, memelihara tanaman dalam pot, memelihara binatang, berkebun, wisata di hutan, gunung, sungai, pantai, mengamati langit, awan, bulan, bintang dll.

Bila anak mempunyai potensi bawaan berbagai kecerdasan dan dirangsang terus menerus sejak kecil dengan cara yang menyenangkan dan jenis yang bervariasi maka anak kita akan mempunyai kecerdasan yang multipel.


Bagaimana cara mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas dibutuhkan oleh manusia untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kreativitas harus dikembangkan sejak dini. Banyak keluarga yang tidak menyadari bahwa sikap orangtua yang otoriter (diktator) terhadap anak akan mematikan bibit-bibit kreativitas anak, sehingga ketika menjadi dewasa hanya mempunyai kreativitas yang sangat terbatas.

Bagaimana peran orangtua utk mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas anak akan berkembang jika orangtua selalu bersikap otoritatif (demokratik), yaitu : mau mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat anak, mendorong anak untuk berani mengungkapkannya. Jangan memotong pembicaraan anak ketika ia ingin mengungkapkan pikirannya. Jangan memaksakan pada anak bahwa pendapat orangtua paling benar, atau melecehkan pendapat anak

Orangtua harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan pendapat, gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri (asalkan tidak membahayakan atau merugikan oranglain atau diri sendiri). Jangan mengancam atau menghukum anak kalau pendapat atau perbuatannya dianggap salah oleh orangtua. Anak tidaklah salah, mereka umumnya belum tahu, dalam tahap belajar. Oleh karena itu tanyakan mengapa mereka berpendapat atau berbuat demikian, beri kesempatan untuk mengemukan alasan-alasan. Berikanlah contoh-contoh, ajaklah berpikir, jangan didikte atau dipaksa, biarkan mereka yang memperbaikinya dengan caranya sendiri. Dengan demikian tidak mematikan keberanian mereka untuk mengemukakan pikiran, gagasan, pendapat atau melakukan sesuatu.

Selain itu orangtua harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu, menghargai usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberikan pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Cara-cara ini merupakan salah satu unsur penting pengembangan kreativitas anak.

Keluarga harus merangsang anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai benda atau kejadian disekeliling kita, yang mereka dengar, lihat, rasakan atau mereka pikirkan dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua harus menjawab dengan cara menyediakan sarana yang semakin merangsang anak berpikir lebih dalam, misalnya dengan memberikan gambar-gambar, buku-buku. Jangan menolak, melarang atau menghentikan rasa ingin tahu anak, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Orangtua harus memberi kesempatan anak untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir dan mewujudkan gagasan anak dengan cara masing-masing. Biarkan mereka bermain, menggambar, membuat bentuk-bentuk atau warna-warna dengan cara yang tidak lazim, tidak logis, tidak realistis atau belum pernah ada. Biarkan mereka menggambar sepeda dengan roda segi empat, langit berwarna merah, daun berwarna biru. Jangan banyak melarang, mendikte, mencela, mengecam, atau membatasi anak. Berilah kebebasan, kesempatan, dorongan, penghargaan atau pujian untuk mencoba suatu gagasan, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Semua hal-hal tersebut akan merangsang perkembangan fungsi otak kanan yang penting untuk kreativitas anak yaitu: berfikir divergen (meluas), intuitif (berdasarkan intuisi), abstrak, bebas, simultan.

Ringkasan 

  1. Jika menginginkan anak dengan kecerdasan multipel harus dilakukan perangsangan sejak bayi setiap hari pada semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan), dengan mengajak berbicara, bermain untuk merangsang perasaan dan pikiran, merangsang gerak kasar dan halus pada leher, tubuh, kaki, tangan dan jari-jari. 
  2. Cara melakukan stimulasi harus disesuaikan dengan umur dan tahapan tumbuh -kembang anak. Stimulasi dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita, misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan, menjelang tidur, atau kapanpun dan dimanapun ketika anda dapat berinteraksi dengan balita anda. Selanjutnya dapat ditambah melalui Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak dan sejenisnya. 
  3. Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, yaitu pola asuh yang otoritatif (demokratik). Artinya : pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat bayi, memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku yang baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.
  4. Pola asuh otoritatif penting untuk mengembangkan kreativitas anak.
    Dengarkan omongan anak, dorong anak untuk berani mengucapkan pendapatnya, hargai pendapat anak, jangan memotong pembicaraan anak, jangan memaksakan pendapat orangtua atau melecehkan pendapat anak.
    Rangsanglah anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai hal dilingkungannya, beri kebebasan dan dorongan untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir, mencoba dan mewujudkan gagasan. Berikan pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun.
    Jangan menghentikan rasa ingin tahu anak, jangan banyak mengancam atau menghukum, beri kesempatan untuk mencoba, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Penulis : Soedjatmiko
Pentingnya Stimulasi Pada Anak Usia Dini (AUD) PDF Print E-mail
Written by dr. Awi Muliadi Wijaya, MKM
Monday, 03 May 2010 21:40

Bagi anda yang memiliki anak usia dini terutama batita (bawah tiga tahun), jangan sampai terlambat untuk melakukan stimulasi dini pada anak anda, karena kesempatan ini hanya datang satu kali dalam hidupnya yaitu pada golden period. Golden period adalah masa keemasan atau sering disebut jendela kesempatan (window of opportunity) yaitu masa pembelajaran dan pengkayaan, masa yang sangat peka bagi otak anak untuk menerima berbagai rangsangan pertumbuhan dan perkembangan.



Apa yang disebut Stimulasi Anak Usia Dini?

Stimulasi anak usia dini (AUD) adalah kegiatan merangsang secara memadai kemampuan dasar anak agar tumbuh dan berkembang optimal sesuai potensi yang dimilikinya. Yang disebut perangsangan yang memadai adalah perangsangan yang dilakukan dengan benar, adekwat dan teratur, sesuai kelompok umur anak.



Batasan Anak Usia Dini

Anak Usia Dini adalah anak berusia 0-6 tahun. Bahkan beberapa ahli mengatakan bahwa batasan usia dini seorang anak adalah sejak di dalam kandungan sampai anak berusia 7 atau 8 tahun.



Kemampuan dasar apa saja yang perlu dirangsang?

Para ahli tumbuh kembang menekankan pada 4 aspek kemampuan dasar anak yang perlu mendapatkan rangsangan yaitu: kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan berbahasa, serta kemampuan bersosialisasi (berinteraksi) dan kemandirian.



Kemampuan gerak kasar atau kemampuan motorik kasar adalah kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh dengan melibatkan otot-otot besar, misal: kemampuan berguling, tengkurap, berdiri dan berjalan.



Kemampuan gerak halus atau kemampuan motorik halus adalah kemampuan anak melakukan pergerakan bagian-bagian tubuh tertentu dengan melibatkan otot-otot kecil tetapi memerlukan koordinasi yang cermat, misal: menjepit dengan jari-jari, menulis, mengamati sesuatu.



Kemampuan bicara dan bahasa adalah kemampuan anak mengungkapkan sesuatu melalui berbicara dan berbahasa, memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah, dst.



Kemampuan bersosialisasi (berinteraksi) adalah kemampuan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang di sekelilingnya, dan kemandirian adalah kemampuan melakukan sesuatu tanpa bantuan pihak lain atau mandiri (makan dan minum sendiri, memakai pakaian sendiri, dst).



Kemampuan dasar lain yang juga perlu mendapatkan stimulasi adalah kemampuan kognitif, kreatifitas dan moral-spiritual.



Siapa saja yang boleh menyetimulasi anak?

Stimulasi AUD sebaiknya dilakukan oleh orang-orang terdekat seperti ayah, ibu, pengganti ibu, pengasuh, pendidik serta anggota keluarga lain. Mengapa harus orang-orang terdekat? karena orang terdekat biasanya akan menunjukkan perilaku baik yang dilandasi kasih sayang.



Bagaimana cara terbaik menyetimulasi anak usia dini?
Ada beberapa prinsip dasar dalam melakukan stimulasi pada anak usia dini yang perlu diterapkan yaitu:

*
Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang terhadap anak.
*
Selalu tunjukkan perilaku yang baik karena anak cenderung meniru tingkah laku orang-orang terdekat dengannya.
*
Dunia anak dunia bermain, karena itu stimulasi dilakukan dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi dan variasi lain yang menyenangkan, tanpa paksaan dan hukuman.
*
Berikan stimulasi sesuai kelompok umur anak.
*
Stimulasi dilakukan dengan cara-cara yang benar, secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak.
*
Menggunakan alat bantu/alat permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar kita.
*
Anak laki-laki dan perempuan diberikan kesempatan yang sama.



Berapa usia terbaik anak untuk dilakukan stimulasi?

Usia terbaik untuk melakukan stimulasi adalah hingga anak berusia 6 tahun. Hasil yang lebih optimal akan didapat bila anak diberikan rangsangan tumbuh kembang ketika ia berusia 0-3 tahun bahkan sejak masih di dalam kandungan usia 4 bulan. Namun bukan berarti pemberian stimulasi dihentikan setelah anak berusia 3 tahun, justru stimulasi harus dilanjutkan bahkan diperbanyak variasinya pada anak usia 3-6 tahun. Beberapa ahli mengatakan, sampai anak berusia 8 tahun masih baik untuk untuk dilakukan stimulasi.



Stimulasi merupakan hak anak

Hak-hak anak sudah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945, Konvensi Hak Anak, dan undang-undang lain tentang kesejahteraan dan perlindungan anak yang berlaku. Orang tua, wali, pendidik, dan pengasuh perlu menyadari hak-hak yang melekat pada anak, yaitu:

1. Tidak dibeda-bedakan (non-diskriminasi)
2. Hak untuk memperoleh yang terbaik
3. Hak untuk bertahan hidup, bertumbuh dan berkembang
4. Hak untuk dihargai pendapatnya

Oleh karena itu merupakan kewajiban orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anak dan anak berhak mendapatkan yang terbaik termasuk urusan tumbuh-kembangnya. Memberikan yang terbaik berarti orang tua harus memenuhi kebutuhan dasar anak yaitu kebutuhan fisik-biologis (Asuh), kasih sayang (Asih) dan stimulasi (Asah) melalui kegiatan SDIDTK.



Mengapa stimulasi perlu dilakukan sejak usia anak sangat dini?

Stimulasi pada usia 0-3 tahun

Sel otak (neuron) anak terbentuk ketika anak (janin) masih di dalam kandungan usia 4 sampai 7 bulan. Pada usia janin empat setengah bulan, sel-sel otak yang terbentuk akan menempati tempat yang tepat di otak. Ketika bayi lahir, dia sudah membawa bermilyar-milyar neuron, tetapi neuron-neuron ini belum saling berhubungan satu sama lain kecuali beberapa neuron yang mengatur denyut jantung, pernafasan, kedipan mata dan gerakan kasar tertentu.



Gambar Sel otak (neuron).




Gambar Hubungan 2 neuron melalui sinaps.



Sel neuron berbeda dengan sel-sel lain dalam tubuh manusia karena sel neuron memiliki cabang-cabang khusus yang disebut axon dan dendrit. Fungsi axon adalah menyalurkan sinyal-sinyal elektrokimia yang berasal dari neuron lain melalui hubungan yang disebut sinaps. Sinaps menghubungkan neuron dengan neuron lain melalui kaki yang disebut dendrit. Komunikasi antar neuron terjadi dalam bentuk neurotransmitter yaitu molekul kimia yang dikeluarkan sinaps. Neurotransmitter membawa sinyal-sinyal elektrokimia melalui sinaps, sinaps menyalurkan dan menggetarkan neuron penerima dengan stimulus listrik.



Rangsangan (stimulasi) pada AUD melalui pancaindera akan merangsang pembentukan sinaps-sinaps sehingga dua atau lebih neuron akan saling berhubungan. Bila dua atau lebih neuron berhubungan melalui sinaps maka neuron-neuron tersebut aktif menghantarkan sinyal-sinyal elektrik pada saat yang bersamaan bila mendapat rangsangan sensorik. Neuron-neuron yang sering menghantarkan sinyal elektrik akan semakin kuat hubungannya satu dengan lainnya karena sering digunakan, disamping itu neuron-neuron akan saling berkoordinasi satu dengan lainnya sesuai dengan fungsinya. Sebaliknya, bila tidak ada atau kurang mendapat rangsangan maka sinaps-sinaps tidak terbentuk atau sinaps sudah terbentuk tetapi jarang dialiri aliran listrik karena neuron jarang mendapat rangsangan maka sinaps-sinaps akan mati atau terpangkas. Oleh karena itu neuron-neuron perlu dikejutkan dengan aliran listrik yang sama dan teratur dengan cara memberikan rangsangan yang sama secara teratur dan berkelanjutan agar sambungan antar neuron semakin kuat, kompleks dan menetap hingga anak menjadi dewasa.



Merangsang AUD melalui perangsangan neuron-neuron dapat diibaratkan seperti kegiatan pemahat yang memahat ukiran kayu. Melalui kegiatan memahat akan terbentuk suatu pola tertentu sehingga kayu yang tadinya polos akan berbentuk ukiran/pahatan yang dapat dimengerti. Dilain sisi, melalui kegiatan memahat akan disingkirkan sebagian kayu yang tidak diperlukan. Ilustrasi ini diterjemahkan, neuron-neuron dan sinaps-sinaps yang digunakan akan membentuk hubungan antar neuron melalui sinaps-sinaps menjadi suatu pola/patron, sebaliknya neuron-neuron yang tidak digunakan akan dipangkas, dan neuron-neuron dengan sinaps-sinapsnya yang jarang digunakan juga akan dipangkas. Setelah hubungan antar neuron dan sinaps-sinaps terbentuk maka harus sering dirangsang dengan cara tertentu dan teratur sehingga akan menghasilkan hubungan antar neuron dan sinaps-sinaps yang kompleks, saling berkoordinasi, semakin kuat dan akhirnya menjadi hubungan yang permanen. Para ahli mengatakan bahwa fase perontokan sinaps-sinaps yang tidak terpakai akan terjadi secara besar-besaran pada usia anak 3 tahun, oleh karena itu perangsangan terbaik dilakukan sebelum anak berusia 3 tahun.





Gambar Perbandingan kepadatan sel-sel otak pada saat anak lahir, usia 6 tahun dan usia 15 tahun.



Jumlah neuron yang ada (100-200 milyar neuron) tidak mengalami perubahan setelah anak lahir. Pertumbuhan hanya terjadi pada dendrit-dendrit dan sinaps-sinaps yang mengalami interaksi sehingga menjadi lebih rimbun menyerupai cabang-cabang pohon yang rindang (lihat gambar kepadatan sel otak). Pada anak usia 3 tahun yang telah mendapatkan stimulasi yang wajar, pada setiap 1 neuron sudah memiliki 15.000 sinaps, dengan terjadinya perontokan sebagian sinaps maka total seluruh neuron telah membentuk sekitar 1.000 triliun sinaps. Jumlah sinaps ini dua kali lebih banyak daripada jumlah sinaps yang dimiliki orang dewasa. Dapat dimengerti hal ini karena masih memungkinkan adanya sinaps-sinaps yang akan rontok kemudian karena tidak terpakai dalam proses anak menuju kedewasaan.



Stimulasi pada usia 3-6 tahun

Para peneliti telah menggunakan alat Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan untuk mengetahui, mengukur dan membandingkan bagaimana perubahan dan pertumbuhan otak anak usia 6 tahun yang diberikan stimulasi yang memadai dengan otak anak yang kurang diberikan stimulasi yang memadai. Hasil MRI tersebut menunjukkan bahwa terjadi pertumbuhan yang pesat pada area otak yang mengatur dalam mempelajari perilaku baru dan kemampuan ketrampilan baru pada usia anak 3-6 tahun. Ini menunjukkan betapa pentingnya melakukan stimulasi untuk mendorong pemikiran yang kompleks dengan cara memperkenalkan permainan dan ketrampilan baru pada anak usia 3-6 tahun.



Gambar
Perbandingan hasil pemeriksaan MRI pada otak anak usia 6 tahun yang sering mendapat stimulasi memadai (kiri)
dan otak anak usia 6 tahun yang kurang mendapat stimulasi yang memadai (kanan).



Kesimpulan

Usia terbaik untuk melakukan stimulasi pada anak adalah sedini mungkin. Hasil yang optimal akan didapat bila anak sudah diberikan rangsangan tumbuh kembang saat ia masih di dalam kandungan usia 4 bulan dan setelah lahir hingga ia berusia 6 tahun. Namun pemberian rangsangan tumbuh kembang pelu dilanjutkan setelah anak berusia 6 tahun hingga usia 8 tahun.



(Selanjutnya nantikan cara-cara melakukan stimulasi pada AUD)



Referensi

1.
http://www-mobile.ecs.soton.ac.uk/comms/neuron_cell.jpg, diakses 5 Mei 2010.
2.
http://www.dmacc.edu/instructors/rbwollaston/Nervous_system/motor_neuron.gif, diakses 5 Mei 2010.
3.
Staf Ahli Meneg PPN Bidang SDM dan Kemiskinan, Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional-BAPPENAS, 2006, Studi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini Yang Holistik dan Terintegrasi.
4.
Departemen Kesehatan RI, 2009, Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.
5.
http://www.catchcoalition.ca/trellis/Learning_about_the_Brain
6.
http://ripon.ripon.k12.wi.us/bpmc/library_blog.html
STIMULASI DINI PADA BAYI DAN BALITA Jan 1, '10 2:13 PM
for everyone

Untuk Mengembangkan Kecerdasan Multipel dan Kreativitas Anak
Apa yang dimaksud dengan kecerdasan multipel ?

Kecerdasan multipel (multiple inteligensia) adalah berbagai jenis
kecerdasan yang dapat dikembangkan pada anak, antara lain
verbal-linguistic (kemampuan menguraikan pikiran dalam kalimat-kalimat,
presentasi, pidato, diskusi, tulisan), logical–mathematical (kemampuan
menggunakan logika-matematik dalam memecahkan berbagai masalah), visual
spatial (kemampuan berpikir tiga dimensi), bodily-kinesthetic
(ketrampilan gerak, menari, olahraga), musical (kepekaan dan kemampuan
berekspresi dengan bunyi, nada, melodi, irama), intrapersonal
(kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri), interpersonal
(kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan orang lain),
naturalist (kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan).

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kualitas kecerdasan ?

Kecerdasan multipel dipengaruhi 2 faktor utama yang saling terkait
yaitu faktor keturunan (bawaan, genetik) dan faktor lingkungan. Seorang
anak dapat mengembangkan berbagai kecerdasan jika mempunyai faktor
keturunan dan dirangsang oleh lingkungan terus menerus.
Orangtua yang cerdas anaknya cenderung akan cerdas pula jika faktor
lingkungan mendukung pengembangan kecerdasaannnya sejak didalam
kandungan, masa bayi dan balita. Walaupun kedua orangtuanya cerdas
tetapi jika lingkungannya tidak menyediakan kebutuhan pokok untuk
pengembangan kecerdasannya, maka potensi kecerdasan anak tidak akan
berkembang optimal. Sedangkan orangtua yang kebetulan tidak
berkesempatan mengikuti pendidikan tinggi (belum tentu mereka tidak
cerdas, mungkin karena tidak ada kesempatan atau hambatan ekonomi)
anaknya bisa cerdas jika dicukupi kebutuhan untuk pengembangan
kecerdasan sejak di dalam kandungan sampai usia sekolah dan remaja.
Apa kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan ?

Tiga kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan antara lain adalah kebutuhan FISIK-BIOLOGIS (terutama untuk pertumbuhan otak,
sistem sensorik dan motorik), EMOSI-KASIH SAYANG (mempengaruhi
kecerdasan emosi, inter dan intrapersonal) dan STIMULASI DINI
(merangsang kecerdasan-kecerdas an lain).
Kebutuhan FISIK-BIOLOGIS terutama gizi yang baik sejak di dalam
kandungan sampai remaja terutama untuk perkembangan otak, pencegahan
dan pengobatan penyakit-penyakit yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan, dan ketrampilan fisik untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Kebutuhan EMOSI-KASIH SAYANG : terutama dengan melindungi,
menimbulkan rasa aman dan nyaman, memperhatikan dan menghargai anak,
tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan tetapi lebih banyak
memberikan contoh-contoh dengan penuh kasih sayang. Kebutuhan STIMULASI
meliputi rangsangan yang terus menerus dengan berbagai cara untuk
merangsang semua system sensorik dan motorik.

Ketiga kebutuhan pokok tersebut harus diberikan secara bersamaan
sejak janin didalam kandungan karena akan saling berpengaruh. Bila
kebutuhan biofisik tidak tercukupi, gizinya kurang, sering sakit, maka
perkembangan otaknya tidak optimal. Bila kebutuhan emosi dan kasih
sayang tidak tercukupi maka kecerdasan inter dan antar personal juga
rendah. Bila stimulasi dalam interaksi sehari-hari kurang bervariasi
maka perkembangan kecerdasan juga kurang bervariasi.
Apa itu STIMULASI DINI ? Apa manfaatnya ?

Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir
(bahkan sebaiknya sejak janin 6 bulan di dalam kandungan) dilakukan
setiap hari, untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran,
penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan). Selain itu harus pula
merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak
berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran
bayi dan balita. Rangsangan yang dilakukan sejak lahir, terus menerus,
bervariasi, dengan suasana bermain dan kasih sayang, akan memacu
berbagai aspek kecerdasan anak (kecerdasan multipel) yaitu kecerdasan :
logiko-matematik, emosi, komunikasi bahasa (lingusitik) , kecerdasan
musikal, gerak (kinestetik) , visuo-spasial, senirupa dll.
Cara melakukan stimulasi dini

Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi
dengan bayi/balita. misalnya ketika memandikan, mengganti popok,
menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan,
bermain, menonton TV, di dalam kendaraan, menjelang tidur.
Stimulasi untuk bayi 0 – 3 bulan dengan cara : mengusahakan rasa
nyaman, aman dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi,
mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik
bergantian, menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok
(lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih) , benda-benda berbunyi,
mengulingkan bayi kekanan-kekiri, tengkurap-telentang , dirangsang untuk
meraih dan memegang mainan
Umur 3 – 6 bulan
ditambah dengan bermain ‘cilukba’, melihat wajah bayi dan pengasuh di
cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.
Umur 6 – 9 bulan
ditambah dengan memanggil namanya, mengajak bersalaman, tepuk tangan,
membacakan dongeng, merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan.
Umur 9 – 12 bulan
ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan mama-papa, kakak,
memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan
bola, dilatih berdiri, berjalan dengan berpegangan.
Umur 12 – 18 bulan
ditambah dengan latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna,
menyusun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle)
memasukkan dan mengeluarkan benda-benda kecil dari wadahnya, bermain
dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap. Latihlah
berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, memanjat tangga, menendang
bola, melepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah
sederhana (mana bola, pegang ini, masukan itu, ambil itu), menyebutkan
nama atau menunjukkan benda-benda.
Umur 18 – 24 bulan
ditambah dengan menanyakan, menyebutkan dan menunjukkan bagian-bagian
tubuh (mana mata ? hidung?, telinga?, mulut ? dll), menanyakan gambar
atau menyebutkan nama binatang & benda-benda di sekitar rumah,
mengajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum mandi, main,
minta dll), latihan menggambar garis-garis, mencuci tangan, memakai
celana - baju, bermain melempar bola, melompat.
Umur 2 – 3 tahun
ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat
(besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit dll),
menyebutkan nama-nama teman, menghitung benda-benda, memakai baju,
menyikat gigi, bermain kartu, boneka, masak-masakan, menggambar garis,
lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil /
besar di toilet.
Setelah umur 3 tahun
selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi
juga di arahkan untuk kesiapan bersekolah antara lain : memegang pensil
dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana,
mengerti perintah sederhana (buang air kecil / besar di toilet), dan
kemandirian (ditinggalkan di sekolah), berbagi dengan teman dll.
Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga)
namun dapat pula di Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak atau sejenisnya.
Pentingnya suasana ketika stimulasi

Stimulasi dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan
bayi-balita, setiap hari, terus menerus, bervariasi, disesuaikan dengan
umur perkembangan kemampuannya, dilakukan oleh keluarga (terutama ibu
atau pengganti ibu).
Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan
kegembiraan antara pengasuh dan bayi/balitanya. Jangan memberikan
stimulasi dengan terburu-terburu, memaksakan kehendak pengasuh, tidak
memperhatikan minat atau keinginan bayi/balita, atau bayi-balita sedang
mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain. Pengasuh yang sering
marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari pengasuh justru memberikan
rangsang emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua ucapan,
sikap dan perbuatan pengasuh adalah merupakan stimulasi yang direkam,
diingat dan akan ditiru atau justru menimbulkan ketakutan bayi-balita.
Pentingnya pola pengasuhan yang demokratik (otoritatif)

Oleh karena itu interaksi antara pengasuh dan bayi atau balita harus dilakukan dalam suasana pola asuh yang demokratik (otoritatif) .
Yaitu pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat bayi, artinya
memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan
kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan
rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong
keberanian untuk mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian
atas keberhasilan atau perilaku yang baik, memberikan koreksi bukan
ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan sesuatu atau
ketika melakukan kesalahan.
Mengapa stimulasi dini bisa merangsang kecerdasan multipel ?

Sel-sel otak janin dibentuk sejak 3 – 4 bulan di dalam kandungan ibu,
kemudian setelah lahir sampai umur 3 – 4 tahun jumlahnya bertambah
dengan cepat mencapai milyaran sel, tetapi belum ada hubungan antar
sel-sel tersebut. Mulai kehamilan 6 bulan, dibentuklah hubungan antar
sel, sehingga membentuk rangkaian fungsi-fungsi. Kualitas dan
kompleksitas rangkaian hubungan antar sel-sel otak ditentukan oleh
stimulasi (rangsangan) yang dilakukan oleh lingkungan kepada
bayi-balita tersebut.
Semakin bervariasi rangsangan yang diterima bayi-balita maka semakin
kompleks hubungan antar sel-sel otak. Semakin sering dan teratur
rangsangan yang diterima, maka semakin kuat maka hubungan antar sel-sel
otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat hubungan antar sel-sel otak,
maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di kemudian hari,
bila dikembangkan terus menerus, sehingga anak akan mempunyai banyak
variasi kecerdasan (multiple inteligensia) .
Bagaimana cara merangsang kecerdasan multipel ?
Untuk merangsang kecerdasan berbahasa verbal ajaklah bercakap-cakap, bacakan cerita berulang-ulang, rangsang untuk berbicara dan bercerita, menyanyikan lagu anak-anak dll.
Latih kecerdasan logika-matematik dengan
mengelompokkan, menyusun, merangkai, menghitung mainan, bermain angka,
halma, congklak, sempoa, catur, kartu, teka-teki, puzzle, monopoli,
permainan komputer dll.
Kembangkan kecerdasan visual-spatial dengan
mengamati gambar, foto, merangkai dan membongkar lego, menggunting,
melipat, menggambar, halma, puzzle, rumah-rumahan, permainan komputer
dll.
Melatih kecerdasan gerak tubuh dengan berdiri satu
kaki, jongkok, membungkuk, berjalan di atas satu garis, berlari,
melompat, melempar, menangkap, latihan senam, menari, olahraga
permainan dll.
Merangsang kecerdasan musikal dengan mendengarkan musik, bernyanyi, memainkan alat musik, mengikuti irama dan nada.
Melatih kecerdasan emosi inter-personal dengan
bermain bersama dengan anak yang lebih tua dan lebih muda, saling
berbagi kue, mengalah, meminjamkan mainan, bekerjasama membuat sesuatu,
permainan mengendalikan diri, mengenal berbagai suku, bangsa, budaya,
agama melalui buku, TV dll.
Melatih kecerdasan emosi intra-personal dengan menceritakan perasaan, keinginan, cita-cita, pengalaman, berkhayal, mengarang ceritera dll.
Merangsang kecerdasan naturalis dengan menanam
biji hingga tumbuh, memelihara tanaman dalam pot, memelihara binatang,
berkebun, wisata di hutan, gunung, sungai, pantai, mengamati langit,
awan, bulan, bintang dll.
Bila anak mempunyai potensi bawaan berbagai kecerdasan dan
dirangsang terus menerus sejak kecil dengan cara yang menyenangkan dan
jenis yang bervariasi maka anak kita akan mempunyai kecerdasan yang
multipel.
Bagaimana cara mengembangkan kreativitas anak ?
Kreativitas dibutuhkan oleh manusia untuk menyelesaikan berbagai
masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kreativitas harus dikembangkan
sejak dini. Banyak keluarga yang tidak menyadari bahwa sikap orangtua
yang otoriter (diktator) terhadap anak akan mematikan bibit-bibit
kreativitas anak, sehingga ketika menjadi dewasa hanya mempunyai
kreativitas yang sangat terbatas.
Bagaimana peran orangtua utk mengembangkan kreativitas anak ?
Kreativitas anak akan berkembang jika orangtua selalu bersikap otoritatif (demokratik) ,
yaitu : mau mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat anak,
mendorong anak untuk berani mengungkapkannya. Jangan memotong
pembicaraan anak ketika ia ingin mengungkapkan pikirannya. Jangan
memaksakan pada anak bahwa pendapat orangtua paling benar, atau
melecehkan pendapat anak
Orangtua harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan
pendapat, gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri
(asalkan tidak membahayakan atau merugikan oranglain atau diri
sendiri). Jangan mengancam atau menghukum anak kalau pendapat atau
perbuatannya dianggap salah oleh orangtua. Anak tidaklah salah, mereka
umumnya belum tahu, dalam tahap belajar. Oleh karena itu tanyakan
mengapa mereka berpendapat atau berbuat demikian, beri kesempatan untuk
mengemukan alasan-alasan. Berikanlah contoh-contoh, ajaklah berpikir,
jangan didikte atau dipaksa, biarkan mereka yang memperbaikinya dengan
caranya sendiri. Dengan demikian tidak mematikan keberanian mereka
untuk mengemukakan pikiran, gagasan, pendapat atau melakukan sesuatu.
Selain itu orangtua harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan
sesuatu, menghargai usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberikan
pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun.
Cara-cara ini merupakan salah satu unsur penting pengembangan
kreativitas anak.
Keluarga harus merangsang anak untuk tertarik mengamati dan
mempertanyakan tentang berbagai benda atau kejadian disekeliling kita,
yang mereka dengar, lihat, rasakan atau mereka pikirkan dalam kehidupan
sehari-hari. Orangtua harus menjawab dengan cara menyediakan sarana
yang semakin merangsang anak berpikir lebih dalam, misalnya dengan
memberikan gambar-gambar, buku-buku. Jangan menolak, melarang atau
menghentikan rasa ingin tahu anak, asalkan tidak membahayakan dirinya
atau orang lain.
Orangtua harus memberi kesempatan anak untuk mengembangkan khayalan,
merenung, berfikir dan mewujudkan gagasan anak dengan cara
masing-masing. Biarkan mereka bermain, menggambar, membuat
bentuk-bentuk atau warna-warna dengan cara yang tidak lazim, tidak
logis, tidak realistis atau belum pernah ada. Biarkan mereka menggambar
sepeda dengan roda segi empat, langit berwarna merah, daun berwarna
biru. Jangan banyak melarang, mendikte, mencela, mengecam, atau
membatasi anak. Berilah kebebasan, kesempatan, dorongan, penghargaan
atau pujian untuk mencoba suatu gagasan, asalkan tidak membahayakan
dirinya atau orang lain.
Semua hal-hal tersebut akan merangsang perkembangan fungsi otak
kanan yang penting untuk kreativitas anak yaitu: berfikir divergen
(meluas), intuitif (berdasarkan intuisi), abstrak, bebas, simultan.
oleh : Soedjatmiko - IDAI

(diambil dr-anak.com)
Stimulasi Dini pada Bayi dan Balita
Posted by maharani on Oct-15-2008

Stimulasi Dini pada Bayi dan Balita
Untuk Mengembangkan Kecerdasan Multipel dan Kreativitas Anak

Apa yang dimaksud dengan kecerdasan multipel ?

Kecerdasan multipel (multiple inteligensia) adalah berbagai jenis kecerdasan yang dapat dikembangkan pada anak, antara lain verbal-linguistic (kemampuan menguraikan pikiran dalam kalimat-kalimat, presentasi, pidato, diskusi, tulisan), logical–mathematical (kemampuan menggunakan logika-matematik dalam memecahkan berbagai masalah), visual spatial (kemampuan berpikir tiga dimensi), bodily-kinesthetic (ketrampilan gerak, menari, olahraga), musical (kepekaan dan kemampuan berekspresi dengan bunyi, nada, melodi, irama), intrapersonal (kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri), interpersonal (kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan orang lain), naturalist (kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan).


Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kualitas kecerdasan ?

Kecerdasan multipel dipengaruhi 2 faktor utama yang saling terkait yaitu faktor keturunan (bawaan, genetik) dan faktor lingkungan. Seorang anak dapat mengembangkan berbagai kecerdasan jika mempunyai faktor keturunan dan dirangsang oleh lingkungan terus menerus.

Orangtua yang cerdas anaknya cenderung akan cerdas pula jika faktor lingkungan mendukung pengembangan kecerdasaannnya sejak didalam kandungan, masa bayi dan balita. Walaupun kedua orangtuanya cerdas tetapi jika lingkungannya tidak menyediakan kebutuhan pokok untuk pengembangan kecerdasannya, maka potensi kecerdasan anak tidak akan berkembang optimal. Sedangkan orangtua yang kebetulan tidak berkesempatan mengikuti pendidikan tinggi (belum tentu mereka tidak cerdas, mungkin karena tidak ada kesempatan atau hambatan ekonomi) anaknya bisa cerdas jika dicukupi kebutuhan untuk pengembangan kecerdasan sejak di dalam kandungan sampai usia sekolah dan remaja.

Apa kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan ?

Tiga kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan antara lain adalah kebutuhan FISIK-BIOLOGIS (terutama untuk pertumbuhan otak, sistem sensorik dan motorik), EMOSI-KASIH SAYANG (mempengaruhi kecerdasan emosi, inter dan intrapersonal) dan STIMULASI DINI (merangsang kecerdasan-kecerdasan lain).

Kebutuhan FISIK-BIOLOGIS terutama gizi yang baik sejak di dalam kandungan sampai remaja terutama untuk perkembangan otak, pencegahan dan pengobatan penyakit-penyakit yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan, dan ketrampilan fisik untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Kebutuhan EMOSI-KASIH SAYANG : terutama dengan melindungi, menimbulkan rasa aman dan nyaman, memperhatikan dan menghargai anak, tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan tetapi lebih banyak memberikan contoh-contoh dengan penuh kasih sayang. Kebutuhan STIMULASI meliputi rangsangan yang terus menerus dengan berbagai cara untuk merangsang semua system sensorik dan motorik.

Ketiga kebutuhan pokok tersebut harus diberikan secara bersamaan sejak janin didalam kandungan karena akan saling berpengaruh. Bila kebutuhan biofisik tidak tercukupi, gizinya kurang, sering sakit, maka perkembangan otaknya tidak optimal. Bila kebutuhan emosi dan kasih sayang tidak tercukupi maka kecerdasan inter dan antar personal juga rendah. Bila stimulasi dalam interaksi sehari-hari kurang bervariasi maka perkembangan kecerdasan juga kurang bervariasi.

Apa itu STIMULASI DINI ? Apa manfaatnya ?

Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak janin 6 bulan di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran bayi dan balita. Rangsangan yang dilakukan sejak lahir, terus menerus, bervariasi, dengan suasana bermain dan kasih sayang, akan memacu berbagai aspek kecerdasan anak (kecerdasan multipel) yaitu kecerdasan : logiko-matematik, emosi, komunikasi bahasa (lingusitik), kecerdasan musikal, gerak (kinestetik), visuo-spasial, senirupa dll.

Cara melakukan stimulasi dini

Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita. misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan, menjelang tidur.

Stimulasi untuk bayi 0 – 3 bulan dengan cara : mengusahakan rasa nyaman, aman dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok (lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih), benda-benda berbunyi, mengulingkan bayi kekanan-kekiri, tengkurap-telentang, dirangsang untuk meraih dan memegang mainan

Umur 3 – 6 bulan ditambah dengan bermain ‘cilukba’, melihat wajah bayi dan pengasuh di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

Umur 6 – 9 bulan ditambah dengan memanggil namanya, mengajak bersalaman, tepuk tangan, membacakan dongeng, merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan.

Umur 9 – 12 bulan ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan mama-papa, kakak, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, dilatih berdiri, berjalan dengan berpegangan.

Umur 12 – 18 bulan ditambah dengan latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna, menyusun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle) memasukkan dan mengeluarkan benda-benda kecil dari wadahnya, bermain dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap. Latihlah berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, memanjat tangga, menendang bola, melepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukan itu, ambil itu), menyebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.

Umur 18 – 24 bulan ditambah dengan menanyakan, menyebutkan dan menunjukkan bagian-bagian tubuh (mana mata ? hidung?, telinga?, mulut ? dll), menanyakan gambar atau menyebutkan nama binatang & benda-benda di sekitar rumah, mengajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum mandi, main, minta dll), latihan menggambar garis-garis, mencuci tangan, memakai celana – baju, bermain melempar bola, melompat.

Umur 2 – 3 tahun ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit dll), menyebutkan nama-nama teman, menghitung benda-benda, memakai baju, menyikat gigi, bermain kartu, boneka, masak-masakan, menggambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil / besar di toilet.

Setelah umur 3 tahun selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi juga di arahkan untuk kesiapan bersekolah antara lain : memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air kecil / besar di toilet), dan kemandirian (ditinggalkan di sekolah), berbagi dengan teman dll. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga) namun dapat pula di Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak atau sejenisnya.

Pentingnya suasana ketika stimulasi

Stimulasi dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan bayi-balita, setiap hari, terus menerus, bervariasi, disesuaikan dengan umur perkembangan kemampuannya, dilakukan oleh keluarga (terutama ibu atau pengganti ibu).

Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan kegembiraan antara pengasuh dan bayi/balitanya. Jangan memberikan stimulasi dengan terburu-terburu, memaksakan kehendak pengasuh, tidak memperhatikan minat atau keinginan bayi/balita, atau bayi-balita sedang mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain. Pengasuh yang sering marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari pengasuh justru memberikan rangsang emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua ucapan, sikap dan perbuatan pengasuh adalah merupakan stimulasi yang direkam, diingat dan akan ditiru atau justru menimbulkan ketakutan bayi-balita.

Pentingnya pola pengasuhan yang demokratik (otoritatif)

Oleh karena itu interaksi antara pengasuh dan bayi atau balita harus dilakukan dalam suasana pola asuh yang demokratik (otoritatif). Yaitu pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat bayi, artinya memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku yang baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.

Mengapa stimulasi dini bisa merangsang kecerdasan multipel ?

Sel-sel otak janin dibentuk sejak 3 – 4 bulan di dalam kandungan ibu, kemudian setelah lahir sampai umur 3 – 4 tahun jumlahnya bertambah dengan cepat mencapai milyaran sel, tetapi belum ada hubungan antar sel-sel tersebut. Mulai kehamilan 6 bulan, dibentuklah hubungan antar sel, sehingga membentuk rangkaian fungsi-fungsi. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antar sel-sel otak ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) yang dilakukan oleh lingkungan kepada bayi-balita tersebut.

Semakin bervariasi rangsangan yang diterima bayi-balita maka semakin kompleks hubungan antar sel-sel otak. Semakin sering dan teratur rangsangan yang diterima, maka semakin kuat maka hubungan antar sel-sel otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat hubungan antar sel-sel otak, maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di kemudian hari, bila dikembangkan terus menerus, sehingga anak akan mempunyai banyak variasi kecerdasan (multiple inteligensia).

Bagaimana cara merangsang kecerdasan multipel ?

Untuk merangsang kecerdasan berbahasa verbal ajaklah bercakap-cakap, bacakan cerita berulang-ulang, rangsang untuk berbicara dan bercerita, menyanyikan lagu anak-anak dll.

Latih kecerdasan logika-matematik dengan mengelompokkan, menyusun, merangkai, menghitung mainan, bermain angka, halma, congklak, sempoa, catur, kartu, teka-teki, puzzle, monopoli, permainan komputer dll.

Kembangkan kecerdasan visual-spatial dengan mengamati gambar, foto, merangkai dan membongkar lego, menggunting, melipat, menggambar, halma, puzzle, rumah-rumahan, permainan komputer dll.

Melatih kecerdasan gerak tubuh dengan berdiri satu kaki, jongkok, membungkuk, berjalan di atas satu garis, berlari, melompat, melempar, menangkap, latihan senam, menari, olahraga permainan dll.

Merangsang kecerdasan musikal dengan mendengarkan musik, bernyanyi, memainkan alat musik, mengikuti irama dan nada.

Melatih kecerdasan emosi inter-personal dengan bermain bersama dengan anak yang lebih tua dan lebih muda, saling berbagi kue, mengalah, meminjamkan mainan, bekerjasama membuat sesuatu, permainan mengendalikan diri, mengenal berbagai suku, bangsa, budaya, agama melalui buku, TV dll.

Melatih kecerdasan emosi intra-personal dengan menceritakan perasaan, keinginan, cita-cita, pengalaman, berkhayal, mengarang ceritera dll.

Merangsang kecerdasan naturalis dengan menanam biji hingga tumbuh, memelihara tanaman dalam pot, memelihara binatang, berkebun, wisata di hutan, gunung, sungai, pantai, mengamati langit, awan, bulan, bintang dll.

Bila anak mempunyai potensi bawaan berbagai kecerdasan dan dirangsang terus menerus sejak kecil dengan cara yang menyenangkan dan jenis yang bervariasi maka anak kita akan mempunyai kecerdasan yang multipel.

Bagaimana cara mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas dibutuhkan oleh manusia untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kreativitas harus dikembangkan sejak dini. Banyak keluarga yang tidak menyadari bahwa sikap orangtua yang otoriter (diktator) terhadap anak akan mematikan bibit-bibit kreativitas anak, sehingga ketika menjadi dewasa hanya mempunyai kreativitas yang sangat terbatas.

Bagaimana peran orangtua utk mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas anak akan berkembang jika orangtua selalu bersikap otoritatif (demokratik), yaitu : mau mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat anak, mendorong anak untuk berani mengungkapkannya. Jangan memotong pembicaraan anak ketika ia ingin mengungkapkan pikirannya. Jangan memaksakan pada anak bahwa pendapat orangtua paling benar, atau melecehkan pendapat anak

Orangtua harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan pendapat, gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri (asalkan tidak membahayakan atau merugikan oranglain atau diri sendiri). Jangan mengancam atau menghukum anak kalau pendapat atau perbuatannya dianggap salah oleh orangtua. Anak tidaklah salah, mereka umumnya belum tahu, dalam tahap belajar. Oleh karena itu tanyakan mengapa mereka berpendapat atau berbuat demikian, beri kesempatan untuk mengemukan alasan-alasan. Berikanlah contoh-contoh, ajaklah berpikir, jangan didikte atau dipaksa, biarkan mereka yang memperbaikinya dengan caranya sendiri. Dengan demikian tidak mematikan keberanian mereka untuk mengemukakan pikiran, gagasan, pendapat atau melakukan sesuatu.

Selain itu orangtua harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu, menghargai usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberikan pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Cara-cara ini merupakan salah satu unsur penting pengembangan kreativitas anak.

Keluarga harus merangsang anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai benda atau kejadian disekeliling kita, yang mereka dengar, lihat, rasakan atau mereka pikirkan dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua harus menjawab dengan cara menyediakan sarana yang semakin merangsang anak berpikir lebih dalam, misalnya dengan memberikan gambar-gambar, buku-buku. Jangan menolak, melarang atau menghentikan rasa ingin tahu anak, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Orangtua harus memberi kesempatan anak untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir dan mewujudkan gagasan anak dengan cara masing-masing. Biarkan mereka bermain, menggambar, membuat bentuk-bentuk atau warna-warna dengan cara yang tidak lazim, tidak logis, tidak realistis atau belum pernah ada. Biarkan mereka menggambar sepeda dengan roda segi empat, langit berwarna merah, daun berwarna biru. Jangan banyak melarang, mendikte, mencela, mengecam, atau membatasi anak. Berilah kebebasan, kesempatan, dorongan, penghargaan atau pujian untuk mencoba suatu gagasan, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Semua hal-hal tersebut akan merangsang perkembangan fungsi otak kanan yang penting untuk kreativitas anak yaitu: berfikir divergen (meluas), intuitif (berdasarkan intuisi), abstrak, bebas, simultan.

oleh : Soedjatmiko – IDAI